Selasa, 19 Maret 2013

Kesehatan Mental "Tulisan 1"


Konsep Sehat


Sehat bisa dikatakan suatu keadaan dimana seluruh bagian dari manusia dapat berfungsi dengan baik dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan.

Kesehatan mental atau mental health atau mental hygiene, berkaitan dengan terhindarnya seseorang dari gangguan dan penyakit kejiwaan dimana adanya keseimbangan individu tersebut  terhadap kondisi lingkungan sekitarnya. 

Sebagai sebuah disiplin ilmu dibidang psikologi, kesehatan mental atau mental hygiene adalah ilmu yang mempelajari masalah kesehatan mental dan bertujuan untuk mencegah serta mengobati individu dari gangguan kejiwaan (Kartono dkk, 1989: 3).

Istilah kesehatan mental diambil dari konsep mental hygiene, kata mental berasal dari bahasa Yunani yang berarti kejiwaan. Kata mental memiliki persamaan makna dengan kata “psyche” yang berasal dari bahasa Latin yang berarti jiwa atau psikis. Jadi mental hygiene berarti mental yang sehat atau kesehatan mental.

Banyak cara dalam mendefinisikan kesehatan mental atau mental hygiene (Latipun, 2005: 43), yaitu :

  1. Karena tidak mengalami gangguan mental.
  2. Tidak jatuh sakit akibat stressor (penyebab terjadinya stress).
  3. Sesuai dengan kapasitasnya dan selaras dengan lingkungan.
  4. Tumbuh dan berkembang secara positif.

Johada (dalam Notosoedirdjo dan Latipun, 2005: 41) terdapat 3 ciri pokok mental yang sehat, yaitu :

  1. Seseorang melakukan penyesuaian diri terhadap lingkungan atau melakukan usaha untuk menguasai dan mengontrol lingkungannya sehingga tidak pasif menerima begitu saja kondisi sosialnya.
  2. Seseorang menunjukan keutuhan kepribadiannya mempertahankan integrasi kepribadian yang stabil yang diperoleh sbagai akibat dari pengaturan yang aktif.
  3. Seseorang mempersepsikan “dunia” dan dirinya dengan benar, independen dalam hal kebutuhan pribadi.

Menurut World Federation for Mental Health kesehatan mental dirumuskan sebagai berikut:

  1. Kesehatan mental sebagai kondisi yang memungkinkan adanya perkembangan yang optimal baik secara fisik, intelektual, dan emosional, sepanjang hal itu sesuai dengan keadaan orang lain.
  2. Masyarakat yang baik adalah masyarakat yang membolehkan perkembangan pada anggota masyarakat lainnya saat menjamin dirinya berkembang dan toleran terhadap masyarakat yang lain.

Sejarah dan Perkembangan Kesehatan Mental

   Secara historis, kesehatan mental terbagi ke dalam dua periode yaitu periode pra ilmiah dan periode ilmiah (Langgulung,1986:23).

1. Periode Pra Ilmiah

Sejak zaman dulu sikap terhadap gangguan kepribadian atau mental telah muncul dalam konsep primitif animisme, yakni ada kepercayaan bahwa dunia ini diawasi atau dikuasai oleh roh-roh atau dewa-dewa. Dan orang Yunani percaya bahwa gangguan mental itu terjadi karena dewa marah dan membawa pergi jiwanya. Untuk menghindari kemarahannya, maka mereka mengadakan perjamuan pesta (sesaji) dengan mantra.dan korban.

Perubahan sikap terhadap tradisi animism terjadi pada zaman Hipocrates (460-467), dengan menggunakan pendekatan naturalism, suatu aliran yang berpendapat bahwa gangguan mental atau fisik itu merupakan akibat dari alam.

Selanjutnya pendekatan naturalism ini tidak dipergunakan lagi dikalangan orang-orang Kristen. Seorang dokter Perancis, Philipe Pinel (1745-1826) menggunakan filsafat politik dan social untuk memecahkan problem penyakit mental.

2. Periode Ilmiah (Modern)

Perubahan yang sangat berarti dalam sikap dan era pengobatan gangguan mental, yaitu dari animisme (irrasional) dan tradisional ke sikap dan cara yang ilmiah (rasional) , yang terjadi saat berkembangnya psikologi abnormal dan psikiatri di Amerika serikat pada tahun 1783. Ketika itu Benyamin Rush (1745-1813) menjadi anggota medis di rumah sakit Penisylvania. Saat itu pengetahuan tentang penyakit kegilaan sangat kurang sehingga untuk mengetahui bagaimana menyembuhkannya menjadi kurang juga. Namun Rush melakukan usaha yang sangat berguna untuk memahami orang-orang yang mengalami gangguan mental dengan memberikan dorongan (motivasi) untuk mau bekerja, rekreasi, dan mencari kesenangan.

Perkembangan psikologi abnormal dan psikiatri memberikan pengaruh kepada lahirnya mental hygiene yang berkembang menjadi body of knowledge dengan gerakan-gerakan yang teroganisir. Dua tokoh perintis yang mempengaruhi perkembangan kesehatan mental, yaitu Dorothea Lynde Dix (1802-1887) dan Clifford Whittingham Beers (1876-1943) dimana mereka mendedikasikan hidupnya di bidang pencegahan gangguan mental dan pertolongan bagi orang-orang miskin dan lemah.

Dorothea Lynde Dix membangun kesadaran masyarakat umum untuk memperhatikan kebutuhan para penderita gangguan mental, karena usahanya di Amerika didirakan 32 rumah sakit jiwa (AF. Jailani,2005: 54).

Sedangkan selama decade 1900-1909 beberapa organisasi kesehatan mental didirikan, seperti American Social Hygiene Association (ASHA), dan American Federation for Sex Hygiene. Semua perkembangan gerakan-gerakan di bidang kesehatan mental berkat jasa Clifford Whittingham Beers yang dinobatkan sebagai “The Founder of The Mental Hygiene Movement”. Pada tahun 1908, dia menindak lanjuti gagasannya dengan mempublikasikan sebuah tulisan otobiografinya sebagai mantan penderita gangguan mental yang berjudul “A Mind That Found It Self”. Beers yakin bahwa penyakit atau gangguan mental dapat dicegah dan disembuhkan.

Gagasan-gagasan Beers membuat tertarik Adolf Mayer yang menyarankan member nama gerakan tersebut dengan nama “Mental Hygiene”.

Tahun 1908, sebuah organisasi pertama didirikan dengan nama Connectievt Society for Mental Hygiene. Kemudian 1 tahun kemudian 19 Februari 1909 didirikan National Commitye Society for Mental Hygiene dengan Beers sebagai sekretarisnya.

Deustch mengemukakan bahwa pada masa dan pasca Perang Dunia I, gerakan kesehatan mental mengkonsentrasikan programnya untuk membantu mereka yang menalami masalah yang serius. Gerakan ini mendapat pengukuhan pada 3 Juli 1946 oleh Presiden Amerika Serikat yang menandatangani “The National Mental Health Act”. 

Pada tahun 1905, berdiri organisasi kesehatan mental “National Association for Mental Health” yang bekerja sama dengan “National Committee for Mental Hygiene, National Mental Health Foundation, and Psychiatric Foundation”. Dan dibelahan dunia lainnya, gerakan ini dikembangkan melalui World Federation for Mental Health dan World Health Organization.


Pendekatan Kesehatan Mental
   
  Saparinah sadli (dalam Suroso, 2001: 132) mengemukakan tiga orientasi kesehatan mental.

  •     Orientasi Klasik
   Seseorang dianggap sehat bila ia tidak mempunyai keluhan tertentu seperti ketegangan, rasa lelah, cemas, rendah diri atau perasaan tidak berguna yang semuanya menimbulkan perasaan sakit atau rasa tidak sehat, serta mengganggu efisiensi kegiatan sehari-hari.
  •     Orientasi Penyesuaian Diri
  Seseorang dianggap sehat mental bila ia mampu mengembangkan dirinya sesuai dengan tuntutan orang-orang lain serta lingkungan sekitarnya.
  •     Orientasi Pengembangan Potensi
   Seseorang dianggap mencapai taraf kesehatan jiwa, bila ia mendapat kesempatan untuk mengembangkan potensialitasnya menuju kedewasaan sehingga ia bias dihargai oleh orang lain dan dirinya sendiri.

Sumber : 
  Rochman, Kholil Iur. Desember. 2010. Kesehatan Mental. Purwokerto: Fajar Media Fress


Sumber Gambar : 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar